Tugas Kritik Teks Lanjut
Umi Ayu Saputri
C0210071
Sastra Indonesia/
VI-F
1.
Cari
katalog naskah, kopi satu naskah. Jelaskan hal-hal yang dapat diperoleh dari
katalog itu, minimal 3 katalog naskah.
Jawab:
a. Dalam Katalogus Koleksi Naskah Melayu Museum Pusat
terdapat banyak hal yang dapat diperoleh, yaitu:
Judul naskah, “Sya’ir Abdulmuluk”, judul
dalam katalog ini tercatat dengan jelas dan dapat dipahami. Judul ditulis
dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Nomor naskah, “Ml. 724
(dari W. 257), dalam katalog ini nomor naskah dijelaskan dengan penulisan kode
naskah dengan huruf Ml. Yang dpat diinterpretasikan sebagai Melayu. Dan nomor
724, adalah penomoran naskah. Ukuran naskah, 33 X 21 cm, ukuran naskah dalam
Sya’ir Abdulmuluk adalah dengan panjang 33 cm
kata-kata dalam film Habibi Ainun
Saya tidak bisa menjanjikan banyak hal. Saya tidak
tahu apakah hidup kita di Jerman akan sulit atau tidak, apakah Ainun tetap bisa
menjadi dokter atau tidak. Tapi yang jelas, saya akan menjadi suami yang
terbaik untuk Ainun.
- Film Habibie & Ainun
Masa lalu saya adalah milik saya, masa lalu kamu
adalah milik kamu, tapi masa depan adalah milik kita.
- Film Habibie & Ainun
Mau ganteng atau tidak, kalau hatinya tidak satu
frekuensi,
lirik Kekasih Gelapku
ku mencintaimu lebih dari apapun
meskipun tiada satu orangpun yang tahu
ku mencintaimu sedalam dalam hatiku
meskipun engkau hanya kekasih gelapku
yakinlah bahwa engkau adalah cintaku
yang kucari selama ini dalam hidupku
dan hanya padamu kuberikan sisa cintaku
yang panjang dalam hidupku
hidupku...
meskipun tiada satu orangpun yang tahu
ku mencintaimu sedalam dalam hatiku
meskipun engkau hanya kekasih gelapku
yakinlah bahwa engkau adalah cintaku
yang kucari selama ini dalam hidupku
dan hanya padamu kuberikan sisa cintaku
yang panjang dalam hidupku
hidupku...
Menjadi Diri Sendiri
hari ini merasa lagi dan lagi
aku ini apa sich buat kalian,, hanya seorang yang tak mengerti apa-apa. buat apa aku ada di antara kalian? kalau ternyata aku nggak bisa mengikuti jalannya kalian. aku selalu tertinggal di belakang kalian, jauh, sangat jauh. bagaimana, aku berlari pun tak dapat mengerjar kalian, hanya langkah kecil menurut kalian. aku sudah berlari semampuku, udah berlari jauh menurutku, tapi itu hanya langkah
aku ini apa sich buat kalian,, hanya seorang yang tak mengerti apa-apa. buat apa aku ada di antara kalian? kalau ternyata aku nggak bisa mengikuti jalannya kalian. aku selalu tertinggal di belakang kalian, jauh, sangat jauh. bagaimana, aku berlari pun tak dapat mengerjar kalian, hanya langkah kecil menurut kalian. aku sudah berlari semampuku, udah berlari jauh menurutku, tapi itu hanya langkah
selamat ulang tahun cinta
Minggu, 05 Mei 2103
Dan tiba lagi hari ini, tepat 05 Mei
lagi
Dan rasa ini tidak pernah berubah,
sama seperti awal aku mengenalmu
Saat aku menatap matamu, menggenggam
erat tanganmu dan melihat senyummu nan manis di bibir tebalmu
Senyum yang mengembang dari bias
cahaya kerinduan itu kurasakan dalam, sangat dalam
Apa kau lihat aku? Aku menatapmu penuh
kagum, penuh suka, penuh dengan kerinduan yang telah lama mengendap di hatiku
Lama, sudah terlalu lama. Hingga aku
bisa di depanmu, di
ESTETIKA SEBAGAI UNGKAPAN RELIGIUSITAS
Umi Ayu Saputri
C0210071/
Filologi
ESTETIKA SEBAGAI UNGKAPAN
RELIGIUSITAS
Estetika sering diartikan sebagai
filsafat keindahan atau seni. Tujuannya sebagaimana tujuan filsafat, dapat
dirumuskan mengikuti perumusan Harold Titus, namun dengan mengaitkannya dengan
masalah-masalah keindahan. Sebagai cabang filsafat atau ilmu yang berdiri
sendiri, terlepas dari metafisika, logika dan etika, serta teologi, terjadi
sejak abad ke-18 dan pandangan sebagai ilmu yang berdiri sendiri sebagian masih
dipertahankan sampai masa kini.
Estetika
dalam Tradisi Islam
Pemikiran estetika dalam tradisi
Islam bermula pada abad ke-9 dan 10, bersamaan waktunya dengan munculnya
terjemahan buku-buku filsafat yunani. Karya filsuf yunani yang paling menarik
perhatian pemikir muslim untuk dibahas dan dikritik sehingga kemudian
melahirkan teori estetika sendiri. Pada tahap perkembangan berikutnya, dari
abad ke-12-17, masalah estetika lebih banyak mendapat tumpuan dari para sufi
dan ahli-ahli filsafat ‘ishraqiyah

